Rabu, 24 Juni 2015
Selasa, 16 Juni 2015
KEMBALIKAN HARGA DIRI SEPAKBOLA INDONESIA
Setelah pembekuan PSSI yang dilakukan oleh menpora Iman
Nahrawi, sepakbola Indonesia benar-benar tak bernadi, menyusul diputuskannya
sanksi FIFA pada Sabtu, 30 Mei 2015
membuat Indonesia di kucilkan dari persepakbolaan dunia. Hal tersebut tentunya
mengakibatkan berbagai kerugian diantaranya
- Indonesia tidak dapat mengikuti turnamen internasional baik timnas maupun klub, bisa sepanjang satu tahun atau dua tahun, tergantung keputusan Exco FIFA.
- Tidak ada kompetisi lokal yang diakui oleh FIFA. Otomatis sang juara kompetisi hanya jago kandang dan tidak teruji di tingkat internasional.
- Sanksi FIFA tersebut secara tidak langsung mengebiri bakat-bakat pemain sepakbola muda Indonesia yang biasanya mampu berbicara banyak di turnamen internasional untuk usia dini.
- Sanksi FIFA tidak cuma berimbas di level klub/timnas, tapi juga menimpa level grassroot, kepelatihan, dan perwasitan. Renegerasi perwasitan Indonesia untuk level internasional pun bisa terganggu.
- Kerugian bagi industri media, tidak bisa menyiarkan, mengabarkan, atau memberitakan pertandingan klub maupun Timnas Indonesia, karena sanksi larangan bermain di turnamen internasional pada level usia berapapun. Situasi ini berimbas pada minimnya sponsor.
- Suporter tak akan lagi bisa mendukung Timnas Indonesia di ajang seperti, Asian Games, Pra Olimpiade, Kualifikasi Piala Asia, Kualifikasi Piala Dunia, Piala AFF, dan lain-lain selama sanksi FIFA masih berlaku.
- Klub-klub besar dunia akan mengurungkan niatnya untuk berkunjung ke Indonesia selama sanksi FIFA masih berlaku.
- PSSI dan ofisialnya tidak memperoleh hak terkait program-program pengembangan FIFA, dan juga pelatihan-pelatihan, selama masa hukuman.
Kerugian-kerugian ini tentu bisa semakin membuat
lesu persepakbolaan Indonesia, mengingat tak adanya target Klub dan Negara di
level internasional. Di lain pihak, FIFA sendiri tidak memberikan batas
waktu kapan sanksi itu dicabut. Namun, FIFA memberikan empat persyaratan agar
sanksi tersebut dicabut. Empat syarat itu disebutkan dalam surat sanksi yang
diberikan FIFA ke sekjen PSSI, Azwan Karim, adapun syaratsyarat itu adalah :
- Komite Eksekutif PSSI yang terpilih mampu mengelola urusan PSSI secara independen dan tanpa pengaruh dari pihak ketiga, termasuk Menteri (atau lembaganya).
- Tanggung jawab untuk tim nasional Indonesia wewenangnya dikembalikan kepada PSSI.
- Tanggung jawab semua kompetisi PSSI dikembalikan wewenangnya kepada PSSI atau Liga yang berada di bawahnya.
- Semua klub yang mendapatkan lisensi dari PSSI berdasarkan regulasi lisensi klub PSSI mampu bersaing di kompetisi PSSI.
Namun tentunya, pembekuan yang dilakukan oleh Menpora bukanlah
tanpa sebab, sudah menjadi rahasia umum, PSSI telah lama dicurigai sebagai
sarang mafia sepakbola tanah air. Rezim saat ini yang di pimpin oleh La Nyala
Mataliti seolah “matados” dengan pembekuan tersebut. Para pengurus Klub yang
menjadi tempat bernaungnya para pemain seperti ikut-ikutan “mabok” bersama
PSSI. Penghentian kompetisi dan “bandel”nya Arema+Persebaya versi La Nyala akhirnya
menjadi alasan kuat menpora membekukan PSSI.
Terlepas dari segala kekacauan itu, keputusan menpora membekukan PSSI
adalah sebuah keputusan Kontroversial yang sangat destruktif, entah karena
sudah direncakan atau memang “gagal paham”, presiden Joko Widodo akhirnya
menyetujui pembekuan dan menerima sanksi yang diberikan oleh FIFA. Seyogyanya,
untuk membasmi tikus disebuah gudang padi, pembakaran gudang adalah sebuah
keputusan yang sembrono dan terlalu banyak memakan korban, masih banyak cara-cara
lain yang lebih bijak dan menyejukan bagi semua pihak.
Semoga pihak-pihak yang bertikai selama ini mampu menciptakan
iklim yang akan membuahkan win-win solution bagi semua elemen sepakbola nasional, Sudah bukan rahasia umum lagi, yang anda-anda cari hanyalah sebentuk
kekuasaan semata, kekayaan materi, dan batu loncatan untuk mencari popularitas.
Bagi anak-anak Indonesia, sepakbola adalah jalan yang akan mengantarkan mereka
menggapai mimpi-mimpinya. Bagi para pemain, sepakbola adalah hidup, bukan hanya sebuah profesi untuk
mendapatkan penghasilan bagi diri dan keluarganya. Bagi para supporter,
sepakbola bukan hanya sarana hiburan, melainkan identitas yang hidup bersama
idealismenya, dan bagi Indonesia, sepakbola adalah harga diri.
Langganan:
Postingan (Atom)


