Selasa, 16 Juni 2015

KEMBALIKAN HARGA DIRI SEPAKBOLA INDONESIA


Setelah pembekuan PSSI yang dilakukan oleh menpora Iman Nahrawi, sepakbola Indonesia benar-benar tak bernadi, menyusul diputuskannya sanksi FIFA pada  Sabtu, 30 Mei 2015 membuat Indonesia di kucilkan dari persepakbolaan dunia. Hal tersebut tentunya mengakibatkan berbagai kerugian diantaranya 
  1. Indonesia tidak dapat mengikuti turnamen internasional baik timnas maupun klub, bisa sepanjang satu tahun atau dua tahun, tergantung keputusan Exco FIFA.
  2. Tidak ada kompetisi lokal yang diakui oleh FIFA. Otomatis sang juara kompetisi hanya jago kandang dan tidak teruji di tingkat internasional.
  3. Sanksi FIFA tersebut secara tidak langsung mengebiri bakat-bakat pemain sepakbola muda Indonesia yang biasanya mampu berbicara banyak di turnamen internasional untuk usia dini.
  4. Sanksi FIFA tidak cuma berimbas di level klub/timnas, tapi juga menimpa level grassroot, kepelatihan, dan perwasitan. Renegerasi perwasitan Indonesia untuk level internasional pun bisa terganggu.
  5. Kerugian bagi industri media, tidak bisa menyiarkan, mengabarkan, atau memberitakan pertandingan klub maupun Timnas Indonesia, karena sanksi larangan bermain di turnamen internasional pada level usia berapapun. Situasi ini berimbas pada minimnya sponsor.
  6. Suporter tak akan lagi bisa mendukung Timnas Indonesia di ajang seperti, Asian Games, Pra Olimpiade, Kualifikasi Piala Asia, Kualifikasi Piala Dunia, Piala AFF, dan lain-lain selama sanksi FIFA masih berlaku.  
  7. Klub-klub besar dunia akan mengurungkan niatnya untuk berkunjung ke Indonesia selama sanksi FIFA masih berlaku.
  8. PSSI dan ofisialnya tidak memperoleh hak terkait program-program pengembangan FIFA, dan juga pelatihan-pelatihan, selama masa hukuman.


Kerugian-kerugian ini tentu bisa semakin membuat lesu persepakbolaan Indonesia, mengingat tak adanya target Klub dan Negara di level internasional. Di lain pihak, FIFA sendiri tidak memberikan batas waktu kapan sanksi itu dicabut. Namun, FIFA memberikan empat persyaratan agar sanksi tersebut dicabut. Empat syarat itu disebutkan dalam surat sanksi yang diberikan FIFA ke sekjen PSSI, Azwan Karim, adapun syaratsyarat itu adalah :
  1. Komite Eksekutif PSSI yang terpilih mampu mengelola urusan PSSI secara independen dan tanpa pengaruh dari pihak ketiga, termasuk Menteri (atau lembaganya).
  2. Tanggung jawab untuk tim nasional Indonesia wewenangnya dikembalikan kepada PSSI.
  3. Tanggung jawab semua kompetisi PSSI dikembalikan wewenangnya kepada PSSI atau Liga yang berada di bawahnya.
  4. Semua klub yang mendapatkan lisensi dari PSSI berdasarkan regulasi lisensi klub PSSI mampu bersaing di kompetisi PSSI.


Namun tentunya, pembekuan yang dilakukan oleh Menpora bukanlah tanpa sebab, sudah menjadi rahasia umum, PSSI telah lama dicurigai sebagai sarang mafia sepakbola tanah air. Rezim saat ini yang di pimpin oleh La Nyala Mataliti seolah “matados” dengan pembekuan tersebut. Para pengurus Klub yang menjadi tempat bernaungnya para pemain seperti ikut-ikutan “mabok” bersama PSSI. Penghentian kompetisi dan “bandel”nya Arema+Persebaya versi La Nyala akhirnya menjadi alasan kuat menpora membekukan PSSI. 

Terlepas dari segala kekacauan itu, keputusan menpora membekukan PSSI adalah sebuah keputusan Kontroversial yang sangat destruktif, entah karena sudah direncakan atau memang “gagal paham”, presiden Joko Widodo akhirnya menyetujui pembekuan dan menerima sanksi yang diberikan oleh FIFA. Seyogyanya, untuk membasmi tikus disebuah gudang padi, pembakaran gudang adalah sebuah keputusan yang sembrono dan terlalu banyak memakan korban, masih banyak cara-cara lain yang lebih bijak dan menyejukan bagi semua pihak.

Semoga pihak-pihak yang bertikai selama ini mampu menciptakan iklim yang akan membuahkan win-win solution bagi semua elemen sepakbola nasional, Sudah bukan rahasia umum lagi, yang anda-anda cari hanyalah sebentuk kekuasaan semata, kekayaan materi, dan batu loncatan untuk mencari popularitas. Bagi anak-anak Indonesia, sepakbola adalah jalan yang akan mengantarkan mereka menggapai mimpi-mimpinya. Bagi para pemain, sepakbola  adalah hidup, bukan hanya sebuah profesi untuk mendapatkan penghasilan bagi diri dan keluarganya. Bagi para supporter, sepakbola bukan hanya sarana hiburan, melainkan identitas yang hidup bersama idealismenya, dan bagi Indonesia, sepakbola adalah harga diri.